PANCOR — Buku Tafsir Hubbul Wathan karya Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. TGKH. M. Zainul Majdi, MA. dibedah dalam sebuah forum ilmiah di Musholla Al-Abror, Pancor, Lombok Timur, Kamis (10/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menggali lebih jauh gagasan keislaman dan kebangsaan yang terkandung dalam karya TGB, khususnya mengenai hubungan antara pesan-pesan Al-Qur’an, kecintaan terhadap tanah air, moderasi beragama, serta tanggung jawab moral dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
- Tafsir Hubbul Wathan memiliki karakter yang cukup khas. Karya tersebut pada awalnya bukan dirancang sebagai penulisan tafsir akademis secara formal, melainkan berangkat dari kajian Jumat rutin di Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center Mataram. Materi kajian kemudian ditranskripsikan dan disusun menjadi buku dengan tetap mempertahankan karakter bahasa lisan.
Pilihan tersebut membuat pesan-pesan Al-Qur’an terasa lebih dekat dengan masyarakat. Bahasa yang komunikatif memungkinkan pembahasan ayat-ayat Al-Qur’an dapat dipahami oleh jamaah dan pembaca dari berbagai latar belakang.
Menghubungkan Al-Qur’an dengan Realitas Kebangsaan
Nama Hubbul Wathan merefleksikan gagasan mahabbatud diar, yakni kecintaan terhadap tanah air. Melalui tafsir ini, TGB berupaya menghadirkan dialog antara teks Al-Qur’an dengan realitas kehidupan masyarakat Indonesia.
Pesan-pesan Al-Qur’an tidak hanya ditempatkan dalam konteks pemahaman tekstual, tetapi juga dikaitkan dengan persoalan kehidupan sehari-hari. Dari sinilah tafsir tersebut menghadirkan pendekatan keagamaan yang sejuk, moderat, dan kontekstual dalam membaca berbagai tantangan zaman.
Dalam forum bedah buku, Prof. Dr. M. Sa’i menyoroti karakter karya tersebut sebagai tafsir yang reflektif-akademis. TGB dinilai mampu menyederhanakan berbagai konsep keislaman yang kompleks, termasuk persoalan akidah dan fikih, menjadi pembahasan yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
Pendekatan itu menjadikan Tafsir Hubbul Wathan tidak sekadar mengajak pembaca memahami kandungan ayat, tetapi juga mendorong pembaca untuk merefleksikan bagaimana nilai Al-Qur’an dapat diterapkan dalam kehidupan pribadi, sosial, dan kebangsaan.
TGB Dorong Kader NWDI Menghidupkan Tradisi Menulis
Salah satu pesan penting yang mengemuka dalam pembahasan buku adalah pentingnya menghidupkan kembali tradisi menulis.
Di tengah perkembangan teknologi digital, penyampaian ilmu pengetahuan semakin mudah dilakukan melalui video, audio, dan berbagai platform digital. Namun, TGB menekankan bahwa tradisi keilmuan tidak cukup hanya mengandalkan dokumentasi digital.
Karya tulis tetap memiliki peran penting sebagai warisan intelektual yang dapat dibaca, dipelajari, dan dikaji oleh generasi berikutnya.
Karena itu, kader-kader NWDI didorong untuk tidak hanya aktif dalam aktivitas dakwah dan penyampaian gagasan secara lisan, tetapi juga memiliki keberanian dan kemampuan untuk menuangkan pemikiran dalam bentuk tulisan.
Tradisi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan ilmu dan elan vital organisasi agar gagasan keislaman dan kebangsaan dapat diwariskan lintas generasi.
Moderasi Beragama dan Adab kepada Guru
Pembahasan buku juga mengarah pada pentingnya moderasi beragama dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Nilai cinta tanah air, anti-kekerasan, toleransi, serta penghormatan terhadap sesama menjadi bagian dari pesan yang relevan untuk terus dikembangkan dalam kehidupan beragama dan berbangsa.
Dalam diskusi tersebut, TGB juga mengangkat kisah Tuan Guru Haji Najmuddin sebagai salah satu pelajaran mengenai adab seorang murid kepada guru.
Adab tersebut menjadi fondasi penting dalam tradisi keilmuan Islam. Menuntut ilmu tidak hanya berkaitan dengan kemampuan intelektual, tetapi juga menyangkut sikap, penghormatan, dan hubungan batin antara murid dan guru.
Cinta Tanah Air sebagai Tanggung Jawab Moral
Persoalan kebangsaan juga menjadi salah satu topik yang menarik perhatian peserta dalam sesi tanya jawab.
Menanggapi pertanyaan mengenai paham yang mempertentangkan nilai keagamaan dengan NKRI, TGB menegaskan pentingnya menghormati simbol-simbol negara sebagai bentuk syukur sekaligus penghormatan terhadap perjuangan para syuhada dan pahlawan bangsa.
Namun, kecintaan terhadap tanah air tidak berhenti pada penghormatan terhadap simbol negara. Cinta tanah air juga harus diwujudkan melalui perilaku yang baik dan tanggung jawab moral dalam kehidupan berbangsa.
Dalam konteks tersebut, persoalan korupsi dan berbagai praktik buruk lainnya turut menjadi perhatian. Perbaikan terhadap kondisi bangsa membutuhkan pertobatan yang nyata dan perubahan perilaku, bukan sekadar pengakuan atau kata-kata.
Dengan demikian, Hubbul Wathan tidak hanya berbicara mengenai kecintaan secara emosional terhadap tanah air, tetapi juga mengandung pesan tentang tanggung jawab untuk menjaga, memperbaiki, dan membangun kehidupan bangsa.
Diharapkan Berlanjut hingga 30 Juz
Forum bedah buku di Musholla Al-Abror Pancor juga melahirkan harapan agar Tafsir Hubbul Wathan dapat terus dikembangkan dalam jilid-jilid berikutnya hingga mencakup 30 juz Al-Qur’an.
Harapan tersebut menunjukkan besarnya potensi karya ini untuk menjadi bagian dari khazanah tafsir kontemporer yang lahir dari pengalaman dan realitas masyarakat Indonesia.
Tafsir Hubbul Wathan diharapkan dapat menjadi salah satu karya yang mempertemukan pesan universal Al-Qur’an dengan konteks kehidupan kebangsaan Indonesia.
Lebih dari sekadar sebuah buku tafsir, karya TGB tersebut menjadi ikhtiar untuk menghadirkan pemahaman keagamaan yang membumi, moderat, dan relevan dengan persoalan zaman, sekaligus meneguhkan pentingnya kecintaan terhadap tanah air sebagai bagian dari tanggung jawab umat dalam menjaga kehidupan bersama.
Bedah buku di Musholla Al-Abror Pancor, Kamis (10/9/2026), pada akhirnya tidak hanya menjadi forum untuk membicarakan sebuah karya, tetapi juga menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana Al-Qur’an terus dihidupkan dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam membangun keberagamaan yang damai, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air.
Komentar
0Belum ada komentar untuk artikel ini.