MATARAM — Wakaf dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan pembangunan umat, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial. Namun, pemanfaatan wakaf sebagai instrumen amal jariah masih belum banyak dipahami dan dikembangkan secara optimal.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), TGB H. Muhammad Zainul Majdi, saat menghadiri Focus Group Discussion (FGD) tentang wakaf bersama para alumni Al-Azhar di Mataram, Rabu (9/9/2026).
Menurut TGB, wakaf merupakan salah satu pintu kebaikan yang manfaatnya dapat dirasakan lintas generasi.
“Wakaf ini pintu kebaikan yang masih asing bagi banyak orang. Padahal kalau bicara amal jariah, maka yang paling identik adalah wakaf,” ujar TGB.
Ia menegaskan, wakaf memiliki karakter yang berbeda karena manfaatnya tidak berhenti pada satu generasi. Aset yang diwakafkan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.
“Wakaf itu lintas generasi. Lintas manfaat,” katanya.
TGB kemudian mengajak masyarakat belajar dari pengelolaan wakaf di Mesir, khususnya . Menurutnya, Al-Azhar merupakan salah satu contoh nyata bagaimana aset wakaf yang dikelola secara baik mampu menopang keberlangsungan pendidikan dan berbagai layanan sosial.
“Mari belajar dari Al-Azhar Mesir. Aset wakafnya luar biasa.”
Ia menyebut, berdasarkan informasi dari Kementerian Wakaf Mesir, aset wakaf memiliki nilai yang sangat besar dan menjadi salah satu penopang berbagai aktivitas sosial dan pendidikan.
Dari kekuatan aset tersebut, Al-Azhar mampu mengoperasikan ribuan sekolah, rumah sakit, panti asuhan hingga universitas.
Universitas Al-Azhar sendiri memiliki sekitar 120 jurusan, dengan jumlah mahasiswa mencapai sekitar 500 ribu mahasiswa asal Mesir dan sekitar 35 ribu mahasiswa asing dari 120 negara.
Yang menarik, kata TGB, kekuatan wakaf juga membuat pendidikan di Al-Azhar dapat diakses tanpa biaya pendidikan bagi mahasiswa.
“Dengan wakaf, pendidikan di Al-Azhar bebas biaya. Dengan wakaf, pendidikan Al-Azhar mampu menjadi yang terbaik,” ujarnya.
TGB bahkan menyinggung keunikan Al-Azhar dalam menarik minat calon mahasiswa. Menurutnya, Al-Azhar tidak perlu melakukan promosi besar-besaran untuk mendapatkan mahasiswa, namun peminatnya tetap datang dari berbagai penjuru dunia.
“Mungkin hanya Al-Azhar satu-satunya universitas di dunia yang tidak pernah membuat promosi atau pengumuman penerimaan mahasiswa. Itupun peminatnya tetap membludak,” kata TGB.
Ia berharap pengalaman pengelolaan wakaf Al-Azhar dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia, khususnya di NTB, untuk melihat wakaf bukan sekadar pemberian aset untuk kepentingan ibadah, tetapi sebagai kekuatan ekonomi dan sosial yang manfaatnya dapat diwariskan lintas generasi.
Wakaf bukan sekadar menyerahkan aset. Jika dikelola dengan amanah dan profesional, wakaf dapat menjadi investasi kebaikan yang terus hidup, bahkan ketika orang yang mewakafkannya telah tiada.**
Komentar
0Belum ada komentar untuk artikel ini.