Sukadana, – Suasana khidmat menyelimuti Masjid An-Nurul Huda di Desa Sukadana pada peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Acara yang dihadiri oleh jamaah setempat tersebut diisi dengan tausiyah menyejukkan oleh Syaikh Dr. Abdullah Hilmy Al-Azhari.
Dalam ceramahnya, Syaikh Abdullah mengangkat tema tentang empat posisi kesedihan dan kekecewaan iblis yang menjadi pengingat bagi umat manusia. Beliau menjelaskan bahwa iblis merasakan penyesalan mendalam pada empat momen krusial:
1. Saat dikeluarkan dari surga karena keangkuhannya.
2. Saat diturunkan ke dunia sebagai makhluk terkutuk.
3. Saat kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang menjadi cahaya petunjuk bagi seluruh alam.
4. Saat turunnya Surah Al-Fatihah, yang merupakan induk dari segala kebaikan dan doa dalam Al-Qur'an.
Syaikh Abdullah menegaskan bahwa setan sangat tidak menyukai peringatan Maulid Nabi. Hal ini dikarenakan perayaan tersebut merupakan bentuk kecintaan dan pengagungan kepada Rasulullah SAW. Beliau mencontohkan, bahwa Nabi Muhammad SAW sendiri merayakan hari kelahirannya dengan melaksanakan puasa sunnah pada hari Senin. Sementara itu, umat Islam merayakannya dengan memperbanyak bacaan sholawat, seperti pembacaan kitab Al-Barzanji, sebagai wujud cinta dan rindu kepada sang Baginda.
Bahaya Lisan Lebih Besar daripada Tangan
Memasuki inti pesan moral, Syaikh Abdullah menyampaikan nasihat mendalam tentang bahaya lisan. Beliau mengingatkan jamaah akan sebuah analogi bijak: "Lisan lebih kecil dari tangan, namun luka yang disebabkan oleh lisan lebih besar dan lebih dalam daripada luka yang disebabkan oleh tangan."
Oleh karena itu, dosa yang dihasilkan oleh ucapan (lisan) dinilai lebih besar konsekuensinya dibandingkan perbuatan tangan. Setiap suara yang keluar dari mulut manusia, baik itu perkataan baik maupun buruk, akan dicatat oleh dua malaikat yang senantiasa menyertai setiap insan.
"Suara bisa menjadi kendaraan menuju surga jika digunakan untuk kebaikan, dzikir, dan sholawat. Namun sebaliknya, suara juga bisa menjerumuskan ke neraka jika digunakan untuk gibah, fitnah, atau perkataan keji," ujar Syaikh Abdullah mengakhiri tausiyahnya.
Peringatan Maulid di Masjid An-Nurul Huda berlangsung dengan penuh kekhusyukan, meninggalkan pesan mendalam bagi para jamaah untuk senantiasa menjaga lisan dan meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Komentar
0Belum ada komentar untuk artikel ini.